Nasib Tiang Monorel DKI Biaya Bongkar Rp300 Juta

Nasib Tiang Monorel DKI Biaya Bongkar Rp300 Juta. Keberadaan ratusan tiang beton yang berjejer di kawasan Kuningan hingga Senayan menjadi saksi bisu kegagalan proyek transportasi massal di Ibu Kota. Nasib tiang monorel DKI Jakarta kini kembali menjadi sorotan publik seiring dengan menurunnya kualitas visual kota dan meningkatnya risiko keselamatan bagi pengguna jalan. Struktur beton yang sudah berdiri selama belasan tahun tersebut tidak hanya mengganggu pemandangan, tetapi juga menimbulkan perdebatan panjang mengenai siapa yang bertanggung jawab atas penghapusannya.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di hadapkan pada situasi sulit karena status kepemilikan aset yang masih tumpang tindih antara pihak swasta dan pemerintah. Di sisi lain, desakan masyarakat agar tiang-tiang tersebut segera di bersihkan semakin menguat karena dianggap sebagai “monumen kegagalan” yang menghambat penataan trotoar dan jalur hijau di jantung kota.

Urgensi Pembersihan dan Estimasi Biaya Bongkar Nasib Tiang Monorel yang Fantastis

Proses pembersihan jalur dari sisa-sisa konstruksi monorel ternyata bukan perkara mudah. Berdasarkan kajian teknis, biaya yang di perlukan untuk merobohkan satu struktur beton penyangga sangatlah tinggi. Estimasi biaya bongkar mencapai Rp300 juta per tiang, sebuah angka yang cukup mengejutkan bagi banyak pihak. Jika di kalikan dengan jumlah tiang yang mencapai ratusan, maka total anggaran yang di butuhkan akan menyentuh angka miliaran rupiah.

Tingginya biaya tersebut di pengaruhi oleh beberapa faktor teknis yang kompleks. Pembiayaan tidak hanya mencakup proses penghancuran beton, tetapi juga mobilisasi alat berat di tengah kemacetan Jakarta serta penanganan limbah konstruksi agar tidak mencemari lingkungan sekitar.

Kendala Teknis di Lapangan dan Dampak Lalu Lintas

Proses pembongkaran tiang monorel di area padat penduduk seperti Jalan Rasuna Said memerlukan perencanaan yang sangat matang. Alat berat berkapasitas besar harus di tempatkan di bahu jalan, yang secara otomatis akan memicu penyempitan jalur lalu lintas. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa eksekusi pembongkaran sering kali tertunda, mengingat dampak kemacetan yang di hasilkan bisa melumpuhkan aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.

Selain itu, struktur pondasi tiang monorel di tanam sangat dalam ke dalam tanah. Pembongkaran secara total memerlukan teknologi khusus agar tidak merusak jaringan utilitas bawah tanah seperti pipa gas, kabel fiber optik, dan saluran air bersih yang berada tepat di bawah konstruksi tersebut.

Skema Pendanaan dan Tanggung Jawab Kontraktor

Hingga saat ini, perdebatan mengenai siapa yang harus menanggung biaya bongkar Rp300 juta per tiang masih terus bergulir. Secara kontraktual, pihak swasta yang memegang proyek sebelumnya seharusnya bertanggung jawab atas pembersihan lokasi jika proyek gagal di lanjutkan. Namun, kendala finansial yang dialami perusahaan pengembang membuat tanggung jawab tersebut seolah di lemparkan kembali ke pundak pemerintah daerah.

Jika Pemprov DKI menggunakan APBD untuk membiayai pembongkaran, kekhawatiran mengenai adanya kerugian negara muncul. Di perlukan payung hukum yang kuat agar pengalihan beban biaya ini tidak menjadi masalah hukum di masa depan, mengingat aset tersebut secara formal belum sepenuhnya di serahkan kepada negara.

Baca Juga : KAI Wisatawan Asing Pengguna KA Jarak Jauh Melonjak

Dampak Jangka Panjang Nasib Tiang Monorel Mangkrak terhadap Tata Kota

Kehadiran tiang monorel yang terbengkalai secara langsung merusak estetika Jakarta sebagai kota global. Beton-beton yang mulai berlumut dan di penuhi coretan vandalisme menciptakan kesan kumuh di tengah gedung-gedung pencakar langit yang modern. Selain masalah keindahan, aspek fungsional lahan juga menjadi kerugian tersendiri bagi warga Jakarta.

Banyak titik trotoar yang seharusnya bisa di perlebar untuk kenyamanan pejalan kaki justru terhalang oleh tiang beton ini. Hal ini menghambat program revitalisasi trotoar yang sedang di gencarkan oleh dinas terkait. Pemanfaatan ruang publik menjadi tidak maksimal karena struktur yang tidak berguna tersebut memakan ruang yang cukup signifikan di median jalan.

Risiko Keselamatan Bagi Pengguna Jalan

Struktur beton yang tidak terawat selama lebih dari satu dekade tentu mengalami penurunan kekuatan material. Paparan cuaca ekstrem, hujan asam, dan polusi kendaraan dapat menyebabkan korosi pada besi tulangan di dalam beton. Jika di biarkan tanpa pengawasan teknis, terdapat risiko keretakan atau serpihan beton yang jatuh dan membahayakan kendaraan yang melintas di bawahnya.

Penerangan di sekitar tiang-tiang ini juga sering kali minim, sehingga pada malam hari, keberadaan tiang beton yang masif sering kali mengejutkan pengemudi yang belum terbiasa dengan medan jalan tersebut. Aspek keselamatan inilah yang seharusnya menjadi prioritas utama di atas perdebatan mengenai biaya bongkar.

Alternatif Pemanfaatan Struktur yang Tersisa Nasib Tiang Monorel

Beberapa pakar tata kota menyarankan agar tiang-tiang tersebut tidak di bongkar secara total jika biaya menjadi kendala utama. Salah satu gagasan yang muncul adalah mengalihfungsikan tiang monorel sebagai penyangga jalur sepeda layang, tanaman vertikal (green wall), atau sebagai fondasi untuk papan iklan digital yang pendapatannya bisa masuk ke kas daerah.

Namun, ide alih fungsi ini juga memerlukan kajian kekuatan struktur yang mendalam. Tidak semua tiang berada dalam posisi yang ideal untuk mendukung beban baru. Oleh karena itu, opsi pembongkaran tetap di anggap sebagai solusi paling bersih untuk mengembalikan fungsi jalan dan trotoar sesuai dengan rencana induk tata ruang Jakarta yang terbaru.

Transformasi Nasib Tiang Monorel Wajah Jakarta Tanpa Monumen Kegagalan

Menyelesaikan masalah nasib tiang monorel DKI Jakarta memerlukan keberanian politik dan koordinasi lintas sektoral yang kuat. Meskipun biaya bongkar Rp300 juta per tiang merupakan angka yang besar. Nilai tersebut di anggap sebanding dengan manfaat jangka panjang yang akan di dapatkan. Kota yang bersih dari sisa-sisa konstruksi mangkrak akan meningkatkan citra Jakarta. Di mata internasional serta memberikan kenyamanan yang lebih baik bagi seluruh warga.

Pemerintah di harapkan segera mengambil keputusan final. Apakah akan menagih tanggung jawab pengembang atau melakukan pembersihan secara mandiri demi kepentingan publik. Transparansi dalam penggunaan anggaran dan ketegasan dalam penataan ruang akan menjadi kunci. Agar kesalahan serupa tidak terulang kembali di masa depan dalam proyek strategis lainnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top