Banjir Rendam 100 Rumah di Rangkasbitung

Banjir Rendam 100 Rumah di Rangkasbitung Akibat Hujan Deras. Curah hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Lebak sejak petang kemarin menyebabkan bencana banjir yang cukup signifikan. Setidaknya, banjir rendam 100 rumah di Rangkasbitung dengan ketinggian air yang bervariasi antara 30 hingga 80 sentimeter. Kondisi ini di picu oleh sistem drainase yang tidak mampu menampung debit air hujan, sehingga air meluap ke pemukiman warga di beberapa rukun tetangga.

Warga yang terdampak segera menyelamatkan barang-barang elektronik serta perabotan rumah tangga menuju tempat yang lebih aman. Situasi mulai terasa mencekam ketika debit air secara cepat merangsek masuk ke dalam area hunian pada tengah malam. Oleh karena itu, sebagian besar penduduk memutuskan untuk tetap siaga dan bertahan di lantai dua rumah masing-masing. Namun demikian, beberapa keluarga memilih segera mengungsi menuju mushola terdekat karena genangan air telah merendam ruangan dengan sangat parah. Selain itu, para pemuda setempat aktif membantu proses evakuasi lansia guna memastikan keselamatan seluruh warga di tengah kepungan banjir tersebut.

Analisis Penyebab Utama Banjir di Kawasan Pemukiman

Fenomena banjir yang terjadi secara berulang di wilayah ini sering kali di kaitkan dengan buruknya tata kelola air perkotaan. Meskipun pemerintah daerah telah melakukan upaya normalisasi, nyatanya kapasitas saluran air saat ini masih jauh dari kata memadai untuk menghadapi cuaca ekstrem. Akibatnya, setiap kali hujan turun lebih dari tiga jam, luapan air menjadi sesuatu yang tidak terelakkan lagi bagi warga Rangkasbitung.

Masalah Drainase dan Penumpukan Sampah

Salah satu faktor teknis yang memperparah keadaan adalah tersumbatnya saluran drainase oleh tumpukan sampah domestik. Selain itu, penyempitan saluran air akibat bangunan liar di atas drainase turut menghambat laju air menuju sungai utama. Hal ini mengakibatkan air menggenang lebih lama di area padat penduduk sebelum akhirnya surut secara perlahan.

Dampak Luapan Sungai Ciujung bagi Warga

Kondisi geografis beberapa titik di Rangkasbitung yang berada di dataran rendah membuatnya sangat rentan terhadap luapan Sungai Ciujung. Ketika debit air sungai meningkat tajam, pintu air otomatis akan tertutup untuk mencegah arus balik, namun hal ini justru menyebabkan air hujan dari pemukiman tidak bisa mengalir keluar. Tekanan air yang besar dari hulu sungai sering kali menjadi ancaman utama bagi stabilitas tanggul di sekitar area terdampak.

Baca Juga : 83 Rumah di Tawaeli Palu Terdampak Banjir

Kondisi Terkini dan Upaya Penanggulangan Darurat Banjir

Hingga pagi ini, genangan air di beberapa titik mulai menunjukkan tanda-tanda surut, meskipun cuaca di langit Rangkasbitung masih tampak mendung menyelimuti kota. Petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lebak telah di kerahkan ke lokasi untuk membantu proses evakuasi dan mendistribusikan bantuan logistik bagi warga yang terisolasi. Pendirian posko kesehatan juga di lakukan guna mengantisipasi munculnya penyakit pasca-banjir seperti gatal-gatal dan diare.

Kerusakan Infrastruktur dan Kerugian Material

Kerugian material di taksir mencapai ratusan juta rupiah mengingat banyaknya kendaraan bermotor dan alat elektronik yang tidak sempat di evakuasi oleh pemiliknya. Beberapa ruas jalan utama di Rangkasbitung juga mengalami kerusakan berupa aspal yang terkelupas akibat terendam air dalam waktu lama. Pihak dinas terkait saat ini sedang melakukan pendataan mendalam untuk menghitung total kerusakan infrastruktur publik yang perlu segera di perbaiki.

Peran Serta Relawan dalam Proses Evakuasi

Di tengah keterbatasan personel pemerintah, peran serta relawan lokal sangat membantu dalam mempercepat penyaluran bantuan makanan siap saji. Para relawan bahu-membahu menembus banjir menggunakan perahu karet untuk menyisir rumah-rumah warga lansia yang memerlukan bantuan khusus. Sinergi antara masyarakat dan petugas lapangan menjadi kunci utama dalam meminimalisir adanya korban jiwa dalam musibah musiman ini.

Langkah Preventif Menghadapi Banjir Puncak Musim Hujan

Mengingat prediksi BMKG bahwa puncak musim hujan tetap berlangsung hingga bulan depan, warga Rangkasbitung harus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir susulan. Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem drainase di berbagai titik rawan perkotaan. Perbaikan infrastruktur jangka panjang sangat mendesak agar musibah yang merendam ratusan rumah warga ini tidak terus berulang setiap tahun. Selain itu, masyarakat wajib menumbuhkan kesadaran kolektif untuk tidak membuang sampah ke saluran air. Sebab, partisipasi aktif penduduk dalam menjaga kebersihan lingkungan menjadi faktor penentu utama bagi kelancaran aliran air dan pencegahan bencana di Rangkasbitung secara permanen.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top