Thailand Serang Kamboja, Thailand Bom Kasino dan Basis Artileri

Thailand Serang Kamboja, Thailand Bom Kasino dan Basis Artileri. Konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja kembali memanas di akhir Desember 2025 setelah jeda singkat dari upaya gencatan senjata. Pasukan militer Thailand melancarkan serangan udara dan tembakan artileri terhadap sejumlah target di wilayah perbatasan Kamboja  termasuk kasino yang di tuduh di gunakan sebagai pangkalan militer serta basis artileri yang di anggap ancaman terhadap keamanan Thailand. Eskalasi ini menimbulkan kekhawatiran yang lebih luas di tingkat regional dan internasional tentang dampaknya terhadap warga sipil dan stabilitas Asia Tenggara.

Awal Mula Eskalasi Konflik antara Thailand dan Kamboja

Ketegangan antara Thailand dan Kamboja bukan fenomena baru. Selama beberapa bulan terakhir, kedua negara telah terlibat dalam serangkaian bentrokan di sepanjang perbatasan timur laut yang panjangnya sekitar 817 kilometer. Penyebabnya melibatkan perselisihan territorial, penggunaan senjata berat, bahkan klaim tentang aktivitas militer ilegal di zona perbatasan.  Perdamaian sempat muncul melalui gencatan senjata yang dimediasi ASEAN bulan sebelumnya, namun langsung terbengkalai ketika kontak senjata kembali meningkat. Thailand memperkuat posisi militernya setelah menilai ancaman terhadap komunitas perbatasan semakin nyata, sementara Kamboja mempertahankan haknya membela wilayah menurut klaimnya.

Target Serangan Kasino dan Basis Artileri

Yang paling mencuri perhatian media internasional adalah serangan Thailand terhadap sejumlah kasino di wilayah Kamboja yang berbatasan langsung dengan Thailand. Militer Thailand mengklaim bahwa bangunan-bangunan ini bukan sekadar tempat perjudian, melainkan telah di alihfungsikan sebagai pangkalan militer, tempat penyimpanan senjata, dan bahkan instrumen peluncuran drone serta artileri berat.

Mengapa Kasino Menjadi Target?. Thailand menyatakan intelijennya mengindikasikan bahwa bangunan-bangunan kasino strategis ini di gunakan oleh pasukan Kamboja sebagai basis operasi militer  termasuk penyimpanan amunisi, peluncuran drone, dan posisi tembakan artileri yang menarget wilayah Thailand. Menurut laporan militer Thailand, serangan itu bertujuan menghentikan ancaman langsung terhadap keamanan nasional mereka.  Pesawat tempur F-16 milik Royal Thai Air Force menjadi salah satu alat yang di gunakan dalam operasi udara ini, menarget struktur yang di nilai sebagai basis militer musuh. Sasaran lain seperti O’Chik Bridge, yang menjadi jalur logistik bagi militer Kamboja, juga di serang pada 19 Desember dalam upaya memutus suplai pasukan musuh.

Artilleri dan Serangan Lintas Wilayah antara Thailand dan Kamboja

Selain serangan udara, militer Thailand juga aktif menggunakan artileri berat untuk menekan posisi musuh. Rudal, mortir, hingga tembakan artileri di arahkan ke kamp-kamp dan posisi pasukan yang di curigai menyerang wilayah Thailand. Serangan ini terjadi di beberapa provinsi perbatasan Kamboja termasuk Banteay Meanchey dan Oddar Meanchey yang berbatasan dekat dengan Surin dan Sisaket di Thailand.  Sejumlah daerah sipil tidak luput dari tembakan artileri ini. Pihak Kamboja menyatakan bahwa serangan tersebut melanggar hukum humaniter internasional karena dampaknya terhadap tempat tinggal warga sipil.

Klaim dan Tuduhan Berbeda antara Thailand dan Kamboja

Dalam setiap konflik bersenjata, versi cerita di lapangan sering berbeda antara negara yang bersangkutan. Thailand menegaskan bahwa serangan di lakukan karena ancaman militer yang nyata dari dalam wilayah Kamboja, menarget bangunan yang di salahgunakan sebagai pangkalan militer.  Sebaliknya, pemerintah Kamboja mengecam tindakan Thailand sebagai serangan yang tidak provoked dan tidak proporsional, terutama karena banyak target yang berada di wilayah sipil. Phnom Penh menyatakan bahwa Thailand melanggar kedaulatan dan mengancam kehidupan warga sipil yang tidak terlibat konflik.

Dampak pada Warga Sipil dan Pengungsian Massal

Konflik yang terus berlanjut ini telah memicu bencana kemanusiaan di kedua sisi perbatasan. Laporan terbaru menunjukkan bahwa lebih dari 500.000 orang di Kamboja telah mengungsi akibat bentrokan bersenjata yang makin brutal ini. Banyak keluarga terpaksa meninggalkan rumah mereka mencari tempat yang lebih aman.  Tidak hanya itu, serangan terhadap pusat-pusat seperti kasino juga melibatkan risiko besar bagi warga sipil yang mungkin bekerja atau tinggal di sekitar kawasan yang menjadi sasaran serangan. Laporan independen bahkan mencatat adanya kerusakan properti sipil serta korban luka.

Baca Juga : 

Bonnie Blue Tuai Kecaman Usai Lecehkan Merah Putih

Reaksi ASEAN dan Upaya Diplomasi Perdamaian antara Thailand dan Kamboja

Ketegangan yang meningkat telah memaksa negara-negara anggota ASEAN untuk turun tangan. Menteri luar negeri dari berbagai negara bertemu di Kuala Lumpur pada 22 Desember untuk mencari jalan keluar damai. Upaya diplomasi ini merupakan tanda bahwa komunitas regional tidak ingin konflik berkepanjangan yang bisa berdampak lebih luas.  Selain itu, perwakilan China juga mendesak kedua negara untuk segera menghentikan permusuhan dan membuka dialog. China menawarkan diri sebagai mediator netral untuk membantu menciptakan kesepakatan gencatan senjata yang bisa di terima kedua pihak.

Isu Tambahan Kasino, Penipuan Online, dan Kontroversi

Salah satu aspek yang memperumit cerita ini adalah tuduhan bahwa beberapa kasino di wilayah perbatasan bukan hanya tempat perjudian. Tetapi juga pusat kegiatan ilegal  termasuk penipuan online dan tempat kerja paksa untuk pelaku penipuan internasional. Laporan internasional menyebut bahwa puluhan ribu pekerja asing  termasuk dari Asia dan Afrika di tahan dalam kondisi yang sangat buruk di kompleks-kompleks ini, di paksa menjalankan operasi penipuan.  Keberadaan aktivitas tersebut menjadi salah satu alasan Thailand mengklaim targetnya bukan sekadar bangunan biasa, melainkan juga pusat yang berkontribusi pada kejahatan lintas negara dan ancaman langsung keamanan nasional mereka. Namun, ini juga meningkatkan kekhawatiran internasional soal keselamatan warga sipil yang terjebak di tengah konflik.

Risiko Jangka Panjang dan Ketidakpastian

Konflik yang telah berjalan beberapa bulan ini memunculkan risiko jangka panjang yang serius. Penularan kekerasan di area perbatasan, gangguan ekonomi lokal. Bisa menyebabkan hilangnya kepercayaan antara kedua negara bisa berdampak pada hubungan bilateral selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun ke depan. Lebih jauh, konflik bersenjata antara dua negara ASEAN berpotensi melemahkan citra perdamaian dan kerja sama di kawasan Asia Tenggara. Terutama ketika negara-negara lain juga menghadapi tantangan geopolitik yang kompleks.

Tantangan bagi Komunitas Internasional

Komunitas internasional kini berada di persimpangan jalan: apakah akan mengambil peran yang lebih kuat dalam mediasi atau membiarkan kedua negara menyelesaikan perbedaan mereka sendiri? Beberapa negara sahabat telah menyerukan gencatan senjata segera dan kembali ke meja perundingan. Perserikatan Bangsa-Bangsa juga telah menyatakan keprihatinannya terhadap dampak kemanusiaan dari konflik ini, terutama bagi warga sipil yang terperangkap di kawasan pertempuran. Peringatan atas penggunaan amunisi berat dan risiko ranjau yang tidak meledak telah di sampaikan, menunjukkan perlunya penanganan yang hati-hati dan penuh tanggung jawab.

Jalan Panjang Menuju Perdamaian antara Thailand dan Kamboja

Konflik yang melibatkan pengeboman kasino, jembatan, dan basis artileri di Kamboja oleh Thailand. Merupakan eskalasi signifikan dalam ketegangan bilateral yang sudah berlangsung lama. Dampaknya meluas jauh melampaui cakupan militer semata  memicu krisis kemanusiaan, memaksa pengungsian massal, serta melibatkan komunitas internasional dalam upaya mediasi.

Kedua negara sama-sama menghadapi dilema: mempertahankan kedaulatan mereka. Sambil berusaha menghindari kehancuran lebih lanjut yang dapat meninggalkan luka sosial dan ekonomi bertahun-tahun. Jalan menuju damai bukan sekadar berhenti menembak.  Tetapi membutuhkan dialog yang tulus, solusi diplomatik yang adil, dan perhatian pada dampak kemanusiaan yang nyata dari konflik ini. Konflik ini mengingatkan dunia bahwa bahkan sesama negara tetangga pun bisa terjerat dalam krisis bersenjata. Lagipula, perlunya kerja sama regional serta global untuk mencegah esktrimisme serupa di masa depan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top